Mukbang Berbuka Puasa: Kenapa Makan Berlebihan Malah Bikin Badan Lemas?

Momen berbuka puasa seringkali dianggap sebagai waktu “balas dendam” atas rasa lapar yang ditahan sepanjang hari, sehingga tren mukbang berbuka puasa kini marak dilakukan oleh banyak orang. Fenomena menyantap berbagai jenis makanan dalam porsi besar secara sekaligus ini memang terlihat memuaskan di layar media sosial, namun menyimpan dampak buruk bagi kesehatan fisik. Secara biologis, perut yang kosong seharian membutuhkan proses adaptasi saat mulai menerima asupan makanan kembali. Memaksakan lambung bekerja ekstra keras dengan volume makanan yang masif justru memicu syok metabolik yang menyebabkan aliran darah berpusat pada pencernaan secara mendadak, sehingga organ lain kekurangan suplai oksigen dan energi.

Dampak langsung dari aktivitas mukbang berbuka puasa adalah munculnya rasa kantuk yang luar biasa dan badan yang terasa lunglai tak bertenaga sesaat setelah makan. Hal ini disebabkan oleh lonjakan kadar gula darah yang terlalu drastis, diikuti oleh pelepasan insulin dalam jumlah besar yang membuat tubuh merasa lemas atau dikenal dengan istilah food coma. Selain itu, lambung yang dipenuhi makanan secara berlebihan akan menekan diafragma, sehingga pernapasan terasa sesak dan perut menjadi begah serta tidak nyaman. Bukannya mendapatkan energi untuk berangkat shalat tarawih, kebiasaan makan porsi besar ini justru seringkali membuat seseorang malas bergerak dan melewatkan ibadah sunnah yang sangat berharga tersebut.

Reaksi para ahli kesehatan dan netizen terhadap viralnya konten mukbang berbuka puasa memicu diskusi serius mengenai pola makan yang sesuai dengan tuntunan medis dan agama. Banyak tenaga medis yang memperingatkan bahwa kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko penyakit degeneratif seperti diabetes dan obesitas jika terus dilakukan selama sebulan penuh. Viralitas edukasi mengenai “makan secukupnya” mulai menyebar sebagai tandingan terhadap konten makan berlebih, mengajak masyarakat untuk lebih menghargai fungsi tubuh dan esensi puasa sebagai pengendalian diri. Masyarakat dihimbau untuk tidak memulai buka puasa dengan porsi kecil, seperti kurma dan air putih, sebelum melanjutkan ke makanan berat setelah memberikan jeda bagi lambung untuk bersiap.