Masalah kurang gizi kronis pada balita masih menjadi tantangan besar di banyak wilayah perkotaan, namun sebuah Taktik Jenius yang diterapkan oleh Puskesmas Mampang telah memberikan hasil yang luar biasa. Alih-alih mengandalkan anggaran besar atau bantuan peralatan medis yang rumit, mereka fokus pada pendekatan berbasis komunitas dan pemanfaatan pangan lokal yang terjangkau. Strategi ini berhasil menurunkan angka gagal tumbuh pada anak secara drastis dalam waktu yang relatif singkat, sekaligus mengedukasi para orang tua mengenai pentingnya nutrisi seimbang tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.
Inti dari Taktik Jenius yang dijalankan oleh tim kesehatan di Mampang adalah optimalisasi bahan makanan di sekitar rumah yang selama ini sering terabaikan. Puskesmas mengadakan kelas memasak rutin bagi para ibu untuk mengolah protein hewani murah seperti telur dan ikan kembung menjadi hidangan yang menarik bagi anak-anak. Edukasi ini sangat penting karena banyak orang tua yang beranggapan bahwa nutrisi baik hanya bisa didapatkan dari daging mahal atau susu formula impor. Dengan mengubah pola pikir ini, puskesmas berhasil menciptakan ketahanan pangan tingkat keluarga yang sangat kokoh.
Selain masalah pangan, Taktik Jenius ini juga melibatkan sistem pemantauan digital yang sangat sederhana namun efektif. Setiap kader Posyandu dibekali dengan aplikasi pemantau pertumbuhan yang dapat mendeteksi dini tanda-tanda perlambatan tumbuh kembang anak. Jika ditemukan indikasi masalah, tim medis akan segera melakukan kunjungan rumah atau home visit untuk memberikan intervensi langsung. Pendekatan jemput bola ini memastikan tidak ada satu pun anak di wilayah Mampang yang terlewatkan dari pengawasan kesehatan, sehingga penanganan bisa dilakukan jauh sebelum kondisi stunting menjadi menetap.
Keberhasilan Taktik Jenius ini juga didukung oleh kolaborasi lintas sektor yang melibatkan perangkat kelurahan dan tokoh masyarakat setempat. Mereka secara kolektif menggalang gerakan “Orang Tua Asuh” di mana warga yang mampu secara ekonomi membantu menyediakan suplemen gizi bagi balita dari keluarga prasejahtera di lingkungan mereka sendiri. Solidaritas sosial ini menjadi motor penggerak yang sangat kuat, membuktikan bahwa masalah kesehatan masyarakat dapat diselesaikan dengan semangat gotong royong. Hal ini menjadikan model penanganan stunting di Mampang sebagai percontohan nasional.